Pakar sejarah teliti Kerajaan Linge di Gayo

08.44 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Sejarah Kerajaan Linge
Sejarah Kerajaan Linge
KERAJAAN Linge kini sedang menjadi sorotan pasca dinobatkannya Tengku Iklil Ilyas Leube sebagai pemangku kerajaan Linge ke 20. Penobatan tersebut menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat dataran tinggi tanoh Gayo.

Akibat pro dan kontra tersebut, peneliti dari Universal Development and Research (Unders) akan menyelidiki sejarah Kerajaan Linge.

Penelitian ini diketuai langsung oleh pakar sejarah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr M Dien Madjid MA. Dia merupakan putra Gayo yang telah lama menetap di Jakarta.

"Kita sudah memulai meneliti Kerajaan Linge yakni tentang kepustakaanya yang melibatkan beberapa orang yaitu dari Nilai Sejarah dan Budaya dari Banda Aceh, beberapa pemuda dari Takengon, Aceh Tengah dan beberapa dari Jakarta," kata dia.

Sementara penelitian ke lapangan, kata dia, akan menyusul dalam waktu dekat ini dan anggota dari Pemuda Gayo juga kan dilibatkan langsung dalam penelitian tersebut. Penelitian ini, kata dia, untuk mengumpulkan serpihan sejarah Kerajaan Linge yang tercecer.

"Setelah diteliti Kerajaan Linge ini, nanti juga akan diadakan seminar untuk membahas Kerajaan Linge yang bertempat di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah pada Mei 2013 mendatang," tutur dia.[](bna)

Sumber : http://atjehpost.com


»»  Readmore... Label:

ZIARAH KE MAKAM REJE LINGE

00.25 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (1)
Di Bukit inilah lokasi Makam Reje/Raja Linge
Makam Reje/Raja Linge
 
Makam Reje/Raja Linge


Tempat Berteduh di Lokasi Makam Reje Linge

Inilah Rumah Tempat Makam Reje/Raja Linge
»»  Readmore... Label: ,

Umah Pitu Ruang Museum Makam Reje Linge

02.29 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Salah satu Obyek Wisata bahkan Bukti Sejarah adalah Umah Pitu Ruang Museum Makam Reje Linge di dataran tinggi Gayo, tepatnya di Kampung Buntul Linge Kecamatan Linge Takengon Kabupaten Aceh Tengah
Pintu Gerbang Umah Pitu Ruang Museum Makam Reje Linge

Makam Reje Linge
»»  Readmore... Label: ,

Radio Rimba Raya

08.46 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Zaman Penjajahan JepangRadio Rimba Raya (Desember 1948 - ... 1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Takengon, Aceh Tengah oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh pimpinan Kolonel Husin Yusuf. Radio ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.
»»  Readmore... Label:

Zaman Kemerdekaan

08.45 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten. Aceh Tengah berdiri sebagai satuan administratif pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-Oendang Nomor 10 Tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-Undang Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kawedanan, yaitu Kawedanan Takengon, Kawedanan Gayo Lues, dan Kawedanan Tanah Alas.
»»  Readmore... Label:

Zaman Penjajahan Jepang

08.43 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco.
»»  Readmore... Label:

Zaman Penjajahan Belanda

08.37 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan Tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, Tembakau dan Damar. Pada periode itu wilayah Kabupaten Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Dalam masa kolonial Belanda tersebut di kawasan Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan Kopi dan Damar. Sejak saat itu pula kawasan Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, khususnya Sayuran dan Kopi.
»»  Readmore... Label:

SEJARAH ACEH TENGAH

07.56 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (2)
Sejarah Kabupaten Aceh Tengah
                Baca Juga Sejarah Kerajaan Linge

Tahun 1984
Sekitar tahun 1904 Kedatangan kolonial Belanda, hal ini tidak terlepas dari potensi perkebunan tanoh Gayo yang sangat cocok untuk budidaya kopi Arabika, tembakau dan damar.
Pada masa itu wilayah Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh, Sigli sebagai ibukotanya. Pada saat itu kota Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan kopi dan damar. baru kota Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi dataran tinggi Gayo, khususnya sayuran dan kopi.


Tahun 1942-1945
Pada masa penjajahan Jepang tahun (1942-1945). Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun, dipimpin oleh Gunco. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten.


Tahun 1948
Aceh Tengah berdiri tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-oendang No. 10 tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten.


Tahun 1956
Pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-undang No. 7 (Drt) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu
  • Kewedanaan Takengon,
  • Kewedanaan Gayo Lues dan
  • Kewedanaan Tanah Alas.


Tahun 1974
Sulitnya transportasi dan didukung aspirasi masyarakat, akhirnya pada tahun 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah.
Dan Aceh Tenggara melalui Undang - undang No. 4 Tahun 1974


Tahun 2004
Kemudian pada 7 Januari 2004, Kabupaten Aceh Tengah kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan Undang -undang No. 41 Tahun 2003. Kabupaten Aceh Tengah tetap beribukota di Takengon, sementara Kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong


»»  Readmore... Label:

Rumah Adat Asli Peninggalan Sejarah Gayo

19.45 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (1)
Umah Edet Pitu Ruang 

Rumah Adat Tujuh Ruang (Umah Edet Pitu Ruang) bahasa Gayo,  adalah peninggalan raje  Baluntara yang nama aslinya Jalaluddin sudah berdiri sejak pra-kemerdekaan. Rumah adat itu adalah bukti sejarah orang Gayo yang masih ada, tapi sayang tampaknya tidak ada yang peduli dengan peninggalan sejarah tersebut.

Rumah tua Umah Edet Pitu Ruang (Rumah Adat Tujuh Ruang) bukti sejarah orang Gayo tersebut letaknya di sebuah kampung pinggiran Danau Lut Tawar  tepatnya di Kampung Toweren, Kecamatan Laut Tawar Aceh Tengah siapa saja boleh melihatnya, tetapi rumah tesebut warnanya mulai pudar bahkan nyaris hilang dimakan waktu seakan akan tidak ada yang perduli, padahal rumah itu adalah bukti sejarah yang masih ada di Dataran Tinggi Gayo yang benar-benar asli peninggalan tidak seperti rumah adat di Linge dan Mess Pitu Ruang di Kampung Kemili Takengon yang hanya copyan dari bentuk aslinya.

Beberapa bagian lantai rumah adat tersebut sudah mulai lapuk. Begitu juga dengan 27 tiang penyangga dari kayu pilihan dan diukir dengan pahatan kerawang Gayo sudah mulai bergeser dan tidak lagi tegak lurus. Beberapa batu gunung dipakai sebagai alas tiang utama agar posisi rumah tetap stabil.

Beberapa warga (Petua Kampung) Toeren tersebut mengatakan saat kami wawancarai, Rumah adat Umah Pitu Ruang Toweren memang dibuat dari kayu pilihan. Diameter tiang penyangganya pun seukuran dekapan dewasa. Tidak diketahui tahun berapa rumah itu dibangun, tetapi menurut cerita, bangunannya sudah berdiri sebelum kolonial Belanda masuk ke Dataran Tinggi Gayo.

Umah Edet Pitu Ruang Gayo tersebut tidak mengunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu  dan  bermacam-macam ukiran di setiap kayu. Ukiran tersebut bentuk nya berbeda-beda, ada yang berbentuk hewan dan ada yang berbetuk seni kerawang Gayo yang di pahat khusus.

Walaupun tidak mengunakan paku tapi kekuatan rumah adat pitu ruang tersebut sangatlah kuat apalagi bahan kayu yang sangat bermutu pada zaman duhulu, tetapi bagaimana pun kuatnya tanpa adanya perawatan bangunan tersebut akan roboh dengan sendirinya di makan zaman.

Luas Umah Edet Pitu Ruang itu, panjangnya 9 meter dengan lebar 12 meter. Berbentuk rumah panggung dengan lima anak tangga, menghadap utara. Sementara di dalamnya terdapat empat buah kamar. Selain empat kamar, ada dua lepo atau ruang bebas di arah timur dan barat.

Semua sambungan memakai ciri khas tersendiri menggunakan pasak kayu. Hampir semua bagian sisi dipakai ukiran kerawang yang dipahat, dengan berbagai motif, seperti puter tali dan sebagainya. Di tengah ukiran kerawang terdapat ukiran berbentuk ayam dan ikan yang melambangkan kemuliaan dan kesejahteraan. Sementara ukiran naga merupakan lambang kekuatan, kekuasaan dan kharisma. Peninggalan Raja Baluntara, bukan hanya bangunan tua yang bertengger usang di Kampung Toweren Uken, tetapi aset bersejarah lain masih tersimpan rapi oleh pihak keluarga seperti Bawar. 

Bawar adalah sebuah tanda kerajaan yang diberikan oleh Sultan Aceh kepada Raja Baluntara.
Selain Bawar yang masih disimpan oleh keluarga keturunan raja itu, ada piring, pedang, cerka dan sejumlah barang peninggalan yang sangat bersejarah. Di belakang rumah adat tersebut dahulunya ada rumah dapur di bagian Selatan yang ukurannya sama dengan ruang utama yang berukuran 9 x 12. Ruangan dimaksud telah hancur. Selain itu, juga ada mersah, kolam dan roda, alat penumbuk padi dengan kekuatan air yang semuanya juga sudah musnah.

Reje Baluntara merupakan seorang raja yang juga mengusai kawasan hutan sehingga disebut sebagai Reje Baluntara (raja belantara- red). Menurut cerita yang berkembang foto Reje Baluntara, ditemukan oleh salah seorang keluarga Reje Baluntara yang bekerja di Jakarta, almarhum Reje Amat Banta.

Dalam sebuah kesempatan ke Belanda, Reje Amat Banta menemukan foto Reje Baluntara yang dibuat oleh Belanda, kemudian dibawa pulang ke Takengon, kemudian dibuat lukisannya sesuai foto aslinya.
Sekeliling rumah pitu ruang tersebut pada tahun 1990 dubuat pagar kawat oleh Suaka Sejarah dan Peninggalan Purbakala Banda Aceh tahun, kini rumah itu tidak lagi di tempati oleh keluarga reje baluntara.
»»  Readmore... Label:

Kerajaan Linge

04.47 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Kerajaan Linge adalah sebuah kerajaan kuno di Aceh. Kerajaan ini terbentuk pada tahun 1025 M (416 H) dengan raja pertamanya adalah Adi Genali. Adi Genali (Kik Betul) mempunyai empat orang anak yaitu: Empuberu, Sibayak Linge, Merah Johan, Merah Linge. Reje Linge I mewariskan kepada keturunannya sebilah pedang dan sebentuk cincin permata yang berasal dari Sultan Peureulak Makhdum Berdaulat Mahmud SyahSyekh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule. (1012-1038 M). Pusaka ini diberikan saat Adi Genali membangun Negeri Linge pertama di Buntul Linge bersama dengan seorang perdana menteri yang bernama Syekh Sirajuddin yang bergelar Cik Serule.
Makam Reje Linge
»»  Readmore... Label:

Mata Uang Emas

04.55 / Diposting oleh KOPI GAYO Shop / komentar (0)
Mata Uang Kerajaan Lingga
Mata uang Kerajaan Lingga. Mata uang Pa berupa uang emas. Sisi pertama tercantum gambar seorang laki-laki memegang tombak. Disisi sebelah lagi tercantum tulisan dalam bahasa arab: Allah, Muhammad, Abubakar, Umar, Usman dan Ali serta ditengahnya tertulis PA Lingga, artinya uang Pa Kerajaan Lingga
»»  Readmore... Label: