PACU KUDE TRADISI GAYO

18.53 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (1)
PACU KUDE

Berkunjung ke tanoh Gayo, sebuah Wilayah Dataran Tinggi di Takengon Kabupaten Aceh  Tengah, terasa  kurang jika tidak menyaksikan Pacuan Kuda “Pacu Kude”, sebuah event yang selalu ditunggu-tunggu dan membawa berkah di tiga Kabupaten di Gayo, yaitu Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues.
Dengan segala keunikannya, “Pacu Kude” adalah sebuah event perlombaan Pacuan Kuda Tradisional. Tradisi yang telah turun temurun, melekat sekian lama. 

»»  Readmore... Label:

TRADISI PACUAN KUDA

18.48 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
ANTARA JUDI DAN TRADISI DI GAYO

Tradisi, yang menarik di dalam Pacu Kude (Pacuan Kuda), adalah tradisi taruhan. Biasanya....
Sebelum kuda dipacu, juru penerangan akan menceritakan sejarah ringkas dari masing-masing kuda, pemilik dan prestasi lewat pengeras suara dari atas balkon yang luasnya kira-kira 30x40 m2. Kuda kuda tersebut kemudian dipromosikan dari atas balkon. yang dipenuhi   oleh petaruh untuk memilih jagoan masing-masing. Dari atas balkon atau tribun tersebut, para petaruh memilih jagoan mereka dan mencari lawan untuk bertaruh.

Seperti yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani, Pertaruhan ini juga diikuti oleh penonton biasa, dari segenap lapisan masyarakatpun juga ikut bertaruh.  Transaksi berlangsung singkat dan tunai. Ini ”pèng kilat”! Tradisi pacu kuda ini, menghalalkan atau melegitimasi taruh (judi) secara resmi dan terbuka. Dengan kata lain: arena pacuan kuda adalah zona bebas judi.

Gara-gara pertaruhan tersebut, adalah hal lumrah, pacu kude juga sarat mistik tradisi pacu kuda ini identik dengan permainan ilmu magic, yang menghadirkan dukun-dukun kesohor. Lazimnya, mereka berdiri berdekatan dengan garis start. Sang dukun mampu membelokkan arah kuda lawan (musuh) saat melewati tikungan tertentu atau tersungkur.

Masih seperti yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani Di era tahun 50-an, dikenal dua dukun terkenal, yaitu: Aman Lumah (yang biasa dialog dan merokok bersama dengan jin) dan Guru Gayo, asal kampung Kenawat. Keduanya hampir setiap tahun mampu memenangkan ”Kude Kenawat” berkulit warna pink campur garis hitam, milik Aman Saleh Bur. Piala-piala yang diraih turut musnah bersama piala juara Didong group Seriwijaya, ketika kampung Kenawat dibakar hangus akhir tahun 1959 oleh pasukan Diponegoro, saat pergolakan Darul Islam (D.I Aceh) bergolak. Caranya: memandikan dan menepung tawari kuda ini terlebih dahulu sebelum dilagakan. Di era tahun 1960-an, ”Kude Bènyang”, ”Kude Gerbak” dan ”Kude Bupati Isa Amin” adalah diantara kuda yang populer. Arena pacuan kuda merupakan gelanggang pertarungan antara dukun-dukun untuk menguji kejituan ilmu magic. Bahkan sering didapati sesajèn di lokasi tertentu yang bisa menyungkurkan kuda musuh. Tidak ada pacuan kuda tanpa kekuatan magic.

Terakhir Selain itu, Pacu Kude, bagi Urang Gayo, kenyataannya, bukanlah hanya sebagai pergelaran budaya, tapi kenyataannya merupakan gambaran realita kondisi perkembangan ekonomi masyarakat Gayo. Ramainya para pengunjung yang melihat Pacuan Kuda memberikan isyarat baiknya perekonomian rakyat Gayo. Sebaliknya, jika pacuan Kuda Sepi maka ia akan menggambarkan merosotnya perekonomian Rakyat Gayo.
»»  Readmore... Label:

PACUAN KUDA

18.45 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
ASAL MULANYA PACU KUDE DI GAYO


Pacuan Kuda “Pacu Kude’ bermula, seperti yang  ditulis oleh almarhum A.R. Hakim Aman Pinan dalam buku Pesona Tanoh Gayo. “Pacu Kude” sebagai sebuah hiburan rakyat sudah terselenggara sebelum Belanda menginjakkan kakinya di Bumi Gayo. Pacu Kuda di masa itu diselenggarakan pada saat Luwes Belang-masa selepas panen padi disawah-sawah di Gayo. Masa Lues Blang ini selalu seringkali kebetulan bertepatan dengan bulan Agustus. Pacu Kude kemudian selalu diadakan pada bulan Agustus, selain Karen alasan tadi, Pertimbangannya lainnya dalam bulan Agustus, cuaca cukup mendukung karena berada dalam musim kemarau. Sehingga Pacu Kude dikira cocok untuk digelar.


Awalnya, Pacu Kude diselenggarakan di kampung Bintang, tepatnya dari pantai menye yang jaraknya sekitar 1,5 km. Arena pacu tepat di tepi pantai, sisi barat berbatas dengan danau laut tawar sementara sisi timur dipagar dengan geluni. Waktu penyelenggaraannya dimulai pukul 08.00 wib sampai pukul 10.00 wib, kemudian dilanjutkan setelah shalat ashar sampai pukul 18.00 wib.


Uniknya, saat itu, Yang terkesan istimewa dengan Pacuan Kuda di Kampung Bintang adalah persyaratan joki, mereka tidak dibenarkan menggunakan baju alias telanjang dada.
Tidak ada hadiah bagi pemenang, hanya ”gah” atau marwah gengsi atau status social yang dipertaruhkan dan dipertahankan. Kemenangan yang diperoleh tersebut dilanjutkan dengan perayaan dan syukuran oleh penduduk setempat dengan sistem berpegenapen yaitu saling sumbang menyumbang untuk biaya perayaan kemenangan tersebut. Dengan memotong hewan ternak dan makan bersama.


 Kemudian, sekitar tahun 1912, pemerintah kolonial belanda melihat pacuan kuda dapat menjadi media untuk menyatukan rakyat, lantas mereka memindahkan pacuan kuda ke takengon, tepatnya di blang kolak yang sekarang bernama lapangan musara alun. Acara pacuan kuda yang diselenggarakan oleh kolonial belanda dikaitkan dengan hari ulang tahun ratu wilhelmina. Supaya event tersebut meriah, oleh pemerintah kolonial disediakan biaya makan kuda, hadiah dan piagam kepada para juara.


Lambat laun, Tradisi memberikan hadiah berlanjut sampai hari ini. Pelaksanaan event tersebut juga seterusnya digelar di lapangan blang kolak. Sistem dan aturan pacuan kuda di blang kolak kemudian juga berubah. Arena pacu dibuat oval yang diberi pagar dari radang (rotan). Para joki yang sebelumnya mengendarai kuda dengan bertelenjang dada, maka di arena pacu blang kolak kepada para joki diberi baju warna warni. Kemudian, kuda-kuda yang dibolehkan bertanding bukan hanya dari kampung bintang, tetapi juga kuda-kuda dari seluruh wilayah onder-afdeling takengon dan daerah lainnya.


Masyarakat Gayo tumpah ruah menonton pegelaran ini. tidak ada pembatasan, ada anak-anak, pria maupun wanita sehingga pacuan kuda menjadi hiburan rakyat. Yang pasti, pada akhirnya pacu kuda menjadi tradisi dan bagian hidup dari rakyat aceh tengah, yang saat itu wilayahnya masih mencangkup Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara.


sampai kemudian, pada tahun 1956-an (bersamaan dengan lahirnya UU.No.7 Drt/1956 dan UU. No. 24/1956 terbentuknya Kabupaten Aceh Tengah), pelaksanaan pacuan kuda ini diambil alih oleh Pemda Aceh Tengah. Pada priode tahun 1950-an, kuda pacu asal kampung Kenawat, Gelelungi, Pegasing, Kebayakan dan Bintang, boleh dikatakan paling aktif dalam perlombaan ini.


Menurut versi lainnya, Pacu Kude sebenarnya Pada awalnya hanyalah aktivitas iseng pemuda-pemuda kampong di Gayo, terutama di Bintang dan disekitar pemukiman-pemukiman di sekeliling danau laut Tawar, seusai musim panen padi di sekitar Danau Laut Tawar. Sudah menjadi kebiasaan anak muda, menangkap kuda yang kerkeliaran dengan kain sarung tanpa setahu empunya dan memacunya. Saat memacu, kadangkala terserempak dengan kelompok pemuda dari kampung lain, yang melakukan hal yang sama. Lalu terjadi interaksi sosial, dimana para joki dari masing-masing kampung sepakat untuk mengadakan pertandingan pacu kuda antara kampung tanpa hadiah bagi pemenang. Tidak disadari, akhirnya sejak awal tahun 1930-an, aktivitas ini berubah menjadi tradisi tahunan yang melibatkan beberapa kampong


Seperti yang ditulis oleh Yusra Habib Abdulgani, Tidak ada aturan pasti dalam perlombaan Pacu Kude, baik tentang atribut: baju, celana, sepatu, topi, pemecut (cambuk) dan  usia seorang joki. Begitu juga dari segi keamanan dan keselamatan para joki, seperti alat pengaman tubuh, pagar dan tali yang benar-benar memenuhi standard keamanan.


jika joki jatuh, luka-luka, bahkan mati sekalipun, cukup dengan menghubungi pihak Rumah sakit. Para joki berkaki telanjang dan berpakaian bebas. Ada joki yang memakai jacket hujan saat berpacu tanpa memperhitungkan factor keselamatan dan arus angin yang mempengaruhi kecepatan. Mereka tidak dibekali pengetahuan tentang ”rule of the game”. Pihak Pemda belum berpikir menyediakan perangkat computer perekam pada garis start, mensyaratkan pakaian yang memenuhi standard keselamatan dan tidak berupaya mengasuransikan para joki, sekiranya mereka mendapat musibah kecelakaan.


Tiga orang juri duduk di atas sebuah menara bertingkat yang jaraknya kira-kira 100-200 m dari garis start; sementara seorang juri pembantu berdiri di atas garis start. Kuda-kuda yang akan dipacu dikendalikan oleh joki dan pemiliknya. Juri pembantu mula-mula memberi aba-aba dengan mengangkat ”bendera start” warna putih sebagai isyarat pertarungan segera berlangsung. Curi start bisa disaksikan disini, saat para joki merapatkan kuda mereka ke garis ”start”. Jika kuda tersebut sulit diajak kompromi (berdiri persis di garis start), maka sang joki yang kekangnya dipandu oleh pemilik, dibenarkan mengambil ancang-ancang jauh dari belakang. Apa yang terjadi? Setiap start perlombaan yang disertai oleh 4 atau 5 peserta, posisi kuda hampir tidak pernah persis berdiri di atas garis start. Juri pembantu hanya memberi peluang beberapa saat agar masing-masing menyiapkan diri; jika tidak, bendera start tetap dikibarkan. Tidak dikenal rumus ”ralat”, ”silap”, ”ma’af”, ”ampun” dan ”menggugat” jika terjadi ketidaksamaan gerak start. Pemegang bendera start adalah raja yang tak tidak pernah melakukan kesalahan dan tidak boleh digangu gugat. Inilah yang membedakan antara paduan kuda tradisional di ”Negeri Antara” dengan pacuan kuda di Inggeris dan Spanyol. Tulis Yusra Habib Abdulgani
»»  Readmore... Label:

DIDONG Menurut Perkembangan

18.18 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Didong Dimasa Hindia Belanda
Dalam perkembangannya, didong tidak hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam, melainkan juga dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para pe-didong dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Pada upacara perkawinan misalnya, akan disampaikan teka-teki yang berkisar pada aturan adat perkawinan. Dengan demikian, seorang pe-didong harus menguasai secara mendalam tentang seluk beluk adat perkawinan. Dengan cara demikian pengetahuan masyarakat tentang adat dapat terus terpelihara. Nilai-nilai yang hampir punah akan dicari kembali oleh para ceh untuk keperluan kesenian didong.

Penampilan didong mengalami perubahan setelah Jepang masuk ke Indonesia. Sikap pemerintah Jepang yang keras telah “memporak-porandakan” bentuk kesenian ini. Pada masa itu, didong digunakan sebagai sarana hiburan bagi tentara Jepang yang menduduki tanah Gayo. Hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat Gayo untuk mengembangkan didong yang syairnya tidak hanya terpaku kepada hal-hal religius dan adat-istiadat, tetapi juga permasalahan sosial yang bernada protes terhadap kekuasaan penjajah Jepang. Pada masa setelah proklamasi, seni pertunjukan didong dijadikan sebagai sarana bagi pemerintah dalam menjembatani informasi hingga ke desa-desa khususnya dalam menjelaskan tentang Pancasila, UUD 1945 dan semangat bela negara. Selain itu, didong juga digunakan untuk mengembangkan semangat kegotong-royongan, khususnya untuk mencari dana guna membangun gedung sekolah, madrasah, mesjid, bahkan juga pembangunan jembatan. Namun, pada periode 1950-an ketika terjadi pergolakan DI/TII kesenian didong terhenti karena dilarang oleh DI/TII. Akibat dilarangnya didong, maka muncul suatu kesenian baru yang disebut saer, yang bentuknya hampir mirip dengan didong. Perbedaan didong denga saer hanya dalam bentuk unsur gerak dan tari. Tepukan tangan yang merupakan unsur penting dalam didong tidak dibenarkan dalam saer.

Dewasa ini didong muncul kembali dengan lirik-lirik yang hampir sama ketika zaman Jepang, yaitu berupa protes (anti kekerasan). Bedanya, dewasa ini protesnya ditujukan kepada pemerintah yang selama sekian tahun menerapkan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer, sehingga menyengsarakan rakyat. Protes anti kekerasan sebenarnya bukan hanya terjadi pada kesenian didong, melainkan juga pada bentuk-bentuk kesenian lain yang ada di Aceh.
»»  Readmore... Label:

DIDONG

18.03 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Didong adalah Sebuah kesenian rakyat Gayo yang dikenal dengan nama Didong, yaitu suatu kesenian yang memadukan unsur tari, vokal, dan sastra. Didong dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Kesenian ini diperkenalkan pertama kali oleh Abdul Kadir To`et. Kesenian didong lebih digemari oleh masyarakat Takengon dan Bener Meriah.

Makna
Ada yang berpendapat bahwa kata “didong” mendekati pengertian kata “denang” atau “donang” yang artinya “nyanyian sambil bekerja atau untuk menghibur hati atau bersama-sama dengan bunyi-bunyian”. Dan, ada pula yang berpendapat bahwa Didong berasal dari kata “din” dan “dong”. “Din” berarti Agama dan “dong” berarti Dakwah.

Pungsi
Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair. Para ceh didong (seniman didong) tidak semata-mata menyampaikan tutur kepada penonton yang dibalut dengan nilai-nilai estetika, melainkan di dalamnya bertujuan agar masyarakat pendengarnya dapat memaknai hidup sesuai dengan realitas akan kehidupan para Nabi dan tokoh yang sesuai dengan Islam. Dalam didong ada nilai-nilai religius, nilai-nilai keindahan, nilai-nilai kebersamaan dan lain sebagainya. Jadi, dalam ber-didong para ceh tidak hanya dituntut untuk mampu mengenal cerita-cerita religius tetapi juga bersyair, memiliki suara yang merdu serta berperilaku baik. Pendek kata, seorang ceh adalah seorang seniman sejati yang memiliki kelebihan di segala aspek yang berkaitan dengan fungsinya untuk menyebarkan ajaran Islam. Didong waktu itu selalu dipentaskan pada hari-hari besar Agama Islam.

Permainan dan Peralatan
Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “penunung”. Jumlahnya dapat mencapai 30 orang, yang terdiri atas 4--5 orang ceh dan sisanya adalah penunung. Ceh adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplit dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa. Namun, dewasa ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa.

Selain itu, ada juga kelompok remaja. Malahan, ada juga kelompok didong remaja yang campur (laki-laki dan perempuan). Dalam kelompok campuran ini biasanya perempuan hanya terbatas sebagai seorang Céh. Peralatan yang dipergunakan pada mulanya bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau ke samping.

Jalanya Pementasan
Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua kelompok (Didong Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Semalam suntuk kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. 
Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan pemerintah (pada zaman Orba), keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami ddidong ini secara mendalam
»»  Readmore... Label:

GAYO WATERPARK

17.50 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Gayo Waterpark (wahana wisata keluarga) dan Krueng Peusangan (rafting)
»»  Readmore... Label:

LOYANG DATU

17.47 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Gua Loyang Datu Merah Mege adalah salah satu obyek wisata yang berada di Kecamatan Linge, Gua  Loyang Datu sangat dalam kalau kita selusuri kita akan tembus ke Gua Loyang Koro yang ada di pinggir Danau Laut Tawar Takengon Aceh Tengah.

Menurut Petua (Orang Tua Saksi Sejah) yang ada di linge, dulu gua itu digunakan untuk lintasan membawa kerbau dari Linge ke Takengon, begitu juga sebaliknya dari Takengon ke arah Linge.

Loyang Datu Merah Mege

Loyang Datu Merah Mege

»»  Readmore... Label:

GUA LOYANG KORO

17.46 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Gua Loyang Koro (Linge Isaq)
»»  Readmore... Label:

TAMAN BURU

17.44 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Taman Buru Linge Isak (berburu)
»»  Readmore... Label:

PANTAN TERONG

17.42 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Pantan Terong Kabupaten Aceh Tengah


Pantan Terong adalah sebuah bukit yang terletak di puncak bukit Dataran Tinggi Gayo Takengon Kabupaten Aceh Tengah. Di tempat ini kita bisa melihat ibu kota Takengon dan Danau Laut Tawar secara keseluruhan, lapangan Pacuan Kuda Belang Bebangka di Kecamatan Pegasing, bandara udara Rembele dari atas, dengan diapit serta dikelilingi punggung gunung bukit barisan yang elok. Pantan Terong terletak di kecamatan Bebesan, 7.5 km dari kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah
»»  Readmore... Label:

DANAU LAUT TAWAR

17.20 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Takengon, kalau kita bicara masalah Takengon kita tidak asing lagi dengan kata-kata Danau Laut Tawar. Nama ini aneh rasanya!?, kalau di daerah lain yang ada Danau atau Laut, tapi disini Danau, Laut, Tawar diborong semuanya menjadi Danau Laut Tawar. Hebat.....
 
Konon cerita para orang tua, dahulu air danau yang tawar itu sering digunakan untuk obat seperti sakit perut,  caranyapun sangant gampang kita langsung minum airnya, tanpa di masak. Tapi kalau sekarang kita minum tampa dimasak yang ada jadi penghuni rumah sakit.






»»  Readmore... Label:

GUA PUTERI PUKES

16.33 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
GOA Putri Pukes merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah. Ceritanya diriwayatkan sebagai legenda antara mitos dan fakta.

Betul tidaknya legenda Putri Pukes, hingga sekarang belum ada yang bisa memastikannya. Gua Putri Pukes tempat legenda itu diceritakan, kini sudah menjadi tempat wisata, tetapi sangat di sayangkan gua tempat manusia yang menjadi batu itu sudah disemen dan ditambah-tambah sehingga tidak lagi alami.

Di dalam gua Putri Pukes tersebut terdapat batu yang dipercayai adalah Putri Pukes yang telah menjadi batu, sumur besar, kendi yang sudah menjadi batu, tempat duduk untuk bertapa orang masa dahulu, alat pemotong zaman dahulu.

Abdullah, penjaga gua, Batu putri pukes tersebut membesar karena kadang-kadang batu tersebut menangis sehingga air mata yang keluar tersebut menjadi batu dan makin lama batu tersebut makin membesar.

Sementara sumur besar kata Abdullah, setiap tiga bulan air di sumur tersebut kering dan tidak ada air nya, bila ada air orang pintar akan datang untuk mengambil air tersebut. Sedangkan kendi yang telah menjadi batu tersebut pernah bawa oleh orang, tetapi dikembalikan lagi karena dilanda resah setelah mengambilnya. “Sedangkan tempat bertapa itu di gunakan oleh orang zaman dahulu untuk melakukan bertapa guna mencari ilmu dan alat pemotong (pisau) peninggalan manusia purbakala kata yang ditemukan di dalam goa putri pukes,” jelas Abdullah.



Putri Pukes
Tidak semua orang Gayo mengetahui cerita legenda Putri Pukes, sebagian dari orang Gayo itu mengetahui legenda itu tetapi tidak mengetahui bagaimana ceritanya. Menurut cerita dan informasi yang  dikumpulkan dari berbagai sumber yang mengetahui tentang legenda Putri Pukes.

Gua Putri Pukes terletak di sebelah utara, tepatnya di Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah Putri Pukes merupakan nama seorang gadis kesayangan dan anak satu-satunya yang berasal dari sebuah keluarga di Kampung Nosar, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.

Suatu hari dia, dijodohkan dengan seorang pria yang berasal dari Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Aceh Tengah (sekarang Kabupaten Bener Meriah). Pernikahan pun dilaksanakan, berdasarkan adat setempat.

Mempelai wanita harus tinggal dan menetap di tempat mempelai pria. Setelah resepsi pernikahan di rumah mempelai wanita selesai, selanjutnya kedua mempelai diantar menuju tempat tinggal pria. Pihak mempelai wanita diantar yang dalam bahasa gayo disebut ‘munenes’ ke rumah pihak pria ke Kampung Simpang Tiga Bener Meriah.

Pada acara ‘munenes’ pihak keluarga mempelai wanita dibekali sejumlah peralatan rumah tangga seperti kuali, kendi, lesung, alu, piring, periuk dan sejumlah perlengkapan rumah tangga lainnya. Adat ‘munenes’ biasanya dilakukan pada acara perkawinan yang dilaksanakan dengan sistem ‘juelen’, dimana pihak wanita tidak berhak lagi kembali ke tempat orangtuanya.

Berbeda dengan sistem ‘kuso kini’ (kesana kemari) atau ‘angkap’. Kuso kini, pihak wanita berhak tinggal di mana saja, sesuai kesepakatan dengan suami. Sementara sistem ‘angkap’, adalah kebalikan dari ‘juelen’, pada sistem perkawinan ini, pihak lelaki diwajibkan tinggal bersama keluarga pihak wanita, disebabkan pihak wanita yang mengadakan lamaran terlebih dahulu.

Pernikahan ini juga disebabkan beberapa hal antara lain, mempelai pria sebelumnya meminta atau mengemis kepada wali mempelai wanita untuk dinikahkan dengan putrinya, dengan alasan sangat mencintainya. Sehingga sebagai persyaratannya, pihak pria harus tinggal bersama keluarga mempelai wanita.

Disinilah detik-detik terjadinya peristiwa sehingga nama Putri Pukes terkenal hingga sekarang, saat akan melepas Putri Pukes dengan iringan-iringan pengantin, ibu Putri Pukes berpesan kepada putrinya yang sudah menjadi istri sah mempelai pria. “Nak…sebelum kamu melewati daerah Pukes yaitu daerah rawa-rawa sekarang menjadi Danau Laut Tawar. Kamu jangan penah melihat ke belakang,”  kata ibu Putri Pukes.

Sang putri pun berjalan sambil menangis dan menghapus air matanya yang keluar terus menerus. Karena tidak sanggup menahan rasa sedih, membuat putri lupa dengan pantangan yang disampaikan oleh ibunya tadi. Secara tak sengaja putri menoleh ke belakang, dengan tiba-tiba putri pukes langsung berubah menjadi batu seperti seperti yang sekarang kita jumpai di dalam Gua Putri Pukes. Apakah itu hanya mitos atau memang benar-benar terjadi, tetapi warga setempat percaya kalau cerita Putri Pukes itu benar ada.
»»  Readmore... Label:

GUA BERSEJARAH

16.17 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
PENAMBAHAN SEMEN DI GUA BERSEJARAH

Pemerhati Sejarah dan Kolektor di Aceh Tengah mengatakan, penambahan semen di gua-gua tempat bersejarah adalah kebodohan eksekutif dareah setempat karena nilai jualnya menjadi hilang.

“Pemerintah daerah memberikan tempat sejarah tersebut begitu saja kepada orang perorangan, tetapi tidak diatur sehingga tempat yang sangat bersejarah itu dengan gampanngnya dirubah dan di tambah-tambah,” ujar Siradjuddin.

Dikatakan Siradjuddin, di Aceh Tengah banyak tempat sejarah yang berpotensi sebagai tempat wisata, tetapi pemerintah daerah tidak mampu menghargai seluruh tempat tersebut, padahal tempat sejarah tersebut sangat berpotensi untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). “Diharapkan ada sikap yang serius dari pemda setempat untuk mempugar tempat-tempat yang bersejarah yang ada di Aceh Tengah sehinggga nilai jualnya tidah hilang begitu saja” papar Siradjuddin.

Selain itu kata Siradjuddin, Pemerintah Daerah Kabupaten jangan memaksakan diri untuk mengambil barang-barang bersejarah dan barang antik yang dimiliki oleh masyarakat atau kolektor untuk dijadikan mesium Kabupaten.

Seharusnya Pemda membina dengan memberikan bantuan untuk dibukanya Galery di rumah masyarakat atau kolektor yang memiliki barang sejarah dan antik sehingga masyarakat kampung dan awam bisa melihat barang-barang yang bersejarah tersebut.

“Masyarakat dan kolektor yang memiliki barang sejarah dan antik tidak percaya kepada Pemeritah daerah sebagai pengelola karena disetiap daerah ada mutasi SKPD sehingga bila SKPD di mutasi barang-barang tersebut bisa raib,”
»»  Readmore... Label:

PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

16.08 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Pertanian dan Perkebunan di kabupaten Aceh Tengah

Sebagian besar masyarakat Kabupaten Aceh Tengah berprofesi sebagai petani dan pekebun. Kabupaten Aceh Tengah menghasilkan salah satu jenis kopi arabika terbaik di dunia. Komoditas penting selain kopi adalah padi, sayur, dan tembakau. Kegiatan perkebunan kopi dan tembakau dilakukan dengan membuka wilayah hutan yang ada di wilayah ini.
»»  Readmore... Label:

PARIWISATA, ADAT DAN BUDAYA

16.06 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Pariwisata, Adat, dan Budaya di Kabupaten Aceh Tengah



Beberapa objek wisata di Kabupaten Aceh Tengah adalah :
  1. Danau Laut Tawar
  2. Pantan Terong (atraksi pemandangan)
  3. Taman Buru Linge Isak (berburu)
  4. Gua Loyang Koro
  5. Gua Puteri Pukes
  6. Loyang Datu
  7. Burni Klieten (hiking)
  8. Gayo Waterpark (wahana wisata keluarga) dan Krueng Peusangan (rafting).


Didong merupakan salah satu kesenian asli yang berasal dari daerah dataran tinggi ini. Sekelompok orang duduk bersila membentuk lingkaran. Salah seorang ceh akan mendendangkan syair-syair dalam bahasa Gayo dan anggota yang lain akan mengiringi dengan tepukan tangan dan tepukan bantal kecil dengan ritme yang harmonis.
»»  Readmore... Label:

PENDIDIKAN

16.02 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Pendidikan di Kabupaten Aceh Tengah 
  1. Kabupaten Aceh Tengah memiliki sebuah universitas yang bernama Universitas Gajah Putih.
  2. SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas)
  3. SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama) /Sederajat
  4. SD (Sekolah Dasar) /Sederajat
  5. TK (Taman Kanak-kanak)
»»  Readmore... Label:

SEKRETARIS

09.40 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
SEKRETARIS KABUPATEN

   1. H. Darul Aman (1946-1955)
   2. M. Yacub Daud, BA (1955-1961)
   3. H. Mohd. Rizal, SH (1957-1961)
   4. Drs. H. Mahmud Ibrahim (1961-1985)
   5. Drs. M. Syarif (1985-1991)
   6. Drs. Buchari Isaq (1991-1992)
   7. Fauzi Abdullah, SE (1992-1994)
   8. Armia, SE (1994-1999)
   9. Drs. Ibnu Hadjar Laut Tawar (1999-2002)
  10. Ir. H. Nasaruddin (2002-2005)
  11. Muhammad Ibrahim, SE (2005-2009)
  12. Drs. Khauirul Asmara (2009-sekarang)
»»  Readmore... Label:

BUPATI

09.38 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
BUPATI KABUPATEN ACEH TENGAH

   1. Abdul Wahab (1945-1949) dan (1958-1964)
   2. Zaini Bakri (1949-1952)
   3. M. Husin (1952-1953)
   4. Mude Sedang (1953-1955)
   5. M. Sahim Hasimi (1955-1958)
   6. M. Saleh Aman Sari (1964-1966)
   7. M. Isa Amin (1966-1969)
   8. Nyak Abas (1969-1970)
   9. Nurdin Sufi (1970-1975)
  10. M. Beni Banta Cut, BA (1975-1985)
  11. M. Jamil (1985-1990)
  12. Drs. Zainuddin Mard (1990-1991)
  13. Drs. T.M. Yoesoef Zainoel (1991-1992)
  14. Drs. Buchari Isaq (1982-1998)
  15. Drs. Mustafa M. Tamy, MM (1998-2004)
  16. Ir. H. Nasaruddin, MM (2004-2006)
  17. Drs. H. Syahbuddin. BP (2006-2007)
  18. Ir. Nasaruddin, MM (2007-2012)

Bupati yang sekarang adalah Nasaruddin menggantikan Syahbuddin, sedangkan Wakil Bupati adalah Drs. H. Djauhar Ali. Mereka dilantik oleh Gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada tanggal 3 April 2007. Ir. H. Nasaruddin, MM lahir di Takengon, 17 Juli 1957. Meraih gelar Sarjana Pertanian (S-1) dan Magister Manajemen (S-2) dari Universitas Syiah Kuala, Kota Banda Aceh.
»»  Readmore... Label:

Radio Rimba Raya

08.46 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Zaman Penjajahan JepangRadio Rimba Raya (Desember 1948 - ... 1949) adalah Radio Republik Indonesia Darurat yang disiarkan dari Takengon, Aceh Tengah oleh Tentara Republik Indonesia Divisi X/Aceh pimpinan Kolonel Husin Yusuf. Radio ini mulai bersiaran sejak terjadinya Agresi Belanda I sampai dengan Konferensi Meja Bundar berakhir dan tentara pendudukan Belanda ditarik dari Indonesia.
»»  Readmore... Label:

Zaman Kemerdekaan

08.45 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, sebutan tersebut berganti menjadi wilayah yang kemudian berubah lagi menjadi kabupaten. Aceh Tengah berdiri sebagai satuan administratif pada tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-Oendang Nomor 10 Tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-Undang Nomor 7 (Darurat) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kawedanan, yaitu Kawedanan Takengon, Kawedanan Gayo Lues, dan Kawedanan Tanah Alas.
»»  Readmore... Label:

Zaman Penjajahan Jepang

08.43 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Sebutan Onder Afdeeling Takengon di era kolonial Belanda, berubah menjadi Gun pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Gun dipimpin oleh Gunco.
»»  Readmore... Label:

Daftar isi

07.52 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)

»»  Readmore... Label:

Zaman Penjajahan Belanda

08.37 / Diposkan oleh Suparman Sb / komentar (0)
Kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan Tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya Kopi Arabika, Tembakau dan Damar. Pada periode itu wilayah Kabupaten Aceh Tengah dijadikan Onder Afdeeling Nordkus Atjeh dengan Sigli sebagai ibukotanya. Dalam masa kolonial Belanda tersebut di kawasan Takengon didirikan sebuah perusahaan pengolahan Kopi dan Damar. Sejak saat itu pula kawasan Takengon mulai berkembang menjadi sebuah pusat pemasaran hasil bumi Dataran Tinggi Gayo, khususnya Sayuran dan Kopi.
»»  Readmore... Label: